Oleh: Mustolih
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Program Studi: Komunikasi
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta
Judul : Boeah Fikiran Kijai H.A.Dachlan
Penulis : Abdul Munir Mulkhan
Penerbit : Global Base Review & STIEAD Press
Kota Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : Juli 2015
Cetakan : Ke-1
Deskripsi Fisik : 208 hlm.
ISBN : 987-602-71457-2-6
Kyai Haji Ahmad Dahlan adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.(Sumber Wikipedia)
Beliau Telah meninggal tahun 1923 tidak menyebabkan buah amal dan pemikirannya berselang 67 tahun itu ditinggalkan oleh Muhammadiyah. Berbagai produk politik dan pemikiran perilaku politik dan pengembangan amal usaha Muhaammadiyah diberbagai bidang seperti,kegiatan penyiaran Islam (tabligh),pendidikan ,yatim piatu dan rumah sakit merupakan kecenderungan umum pemikiran,amal dan perilaku Kyai Haji Ahmad Dahlan sebagai pimpinan dan pendiri Muhammadiyah pada zamannya.
Kiai Haji Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. la dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kyai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen, mengajar di sekolah Belanda, serta bergaul dengan tokoh-tokoh Budi Utomo yang kebanyakan dari golongan priyayi, dan bermacam-macam tuduhan lain. Saat itu Ahmad Dahlan sempat mengajar agama Islam di sekolah OSVIA Magelang, yang merupakan sekolah khusus Belanda untuk anak-anak priyayi. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun ia berteguh hati untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaruan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.
- Pembebasan Kemiskinan Spiritual
Di tengah praktik hidup hedonis dan korup Elite negri ini, penting di baca ulang etos gerakan pembaruan di awal Muhammadiyah didirikan Kiai Ahmad Dahlan. Hal itu merupakan penafsiran ulang ajaran yang selama ini di pahamai publik sebagai gerakan pemberdayaan umat dan pembebasan Kemiskinan dan ketertindasan.
Pengelolaan tempat ibadah sebagai fungsi sosial, ekonomi dan budaya secara maksimal tidak hanya sebatas kegiatan ritual keagamaan. Perspeksi ini melahirkan pembaruan pengelolaan zakat dan fitrah, ibadah Korban, infak dan sedekah untuk membiayai aksi-aksi sosial.
- Agama, Ilmu dan Empati Kemanusiaan Dalam Pandangan Pendiri Muhammadiyah
Muhammadiyah melalui dan dalam gagasan pendirinya, merupakan suatu praktik kesalahan sumber manusia yang bersumber dari tafsir ajaran Islam tentang kehidupan duniawi. Islam sepanjang pemahaman Kiai Ahmad Dahlan bukanlah semata -mata tentang hidup sesudah kematian, tetapi Mengabdi manusia kepada Sang Penciptanya melalui aksi kepedulian sosial dan aksi kemanusiaan.
Karena itu Muhammdiyah merupakan gerakan penerapan ajaran Islam dengan tujuan praktik Islam tersebut berfungsi memecahkan berbagai prsoalan kemanusiaan tanpa memandang agama.

Silahkan Komentar
EmoticonEmoticon